Cara Ampuh Menyiasati Properti yang Lesu

“Selalu ada Kesempatan disetiap Kesempitan”

Sudah menjadi topik dimana-mana bahwa saat ini kondisi perekonomian Indonesia masih lesu. Angka rupiah terhadap dolar terus naik, kondisi perpolitikan indonesia yang belum stabil dan naiknya berbagai kebutuhan pokok menjadi sumber semakin lesunya berbagai sektor di Indonesia. Salah satu yang terkena imbasnya adalah properti. Berdasarkan survei dari Bank Indoesia (BI), penjualan rumah pada kuartal II-2015 hanya tumbuh 10,84%, sedangkan pertumbuhan penjualan pada kuartal I-2015 mencapai dua kali lipatnya, yaitu sebesar 26,2%. Penurunan penjualan paling banyak terjadi pada rumah kelas menengah. Hanya rumah tipe kecil saja yang mengalami kenaikan walaupun tidak sebesar kenaikan pada kuartal sebelumnya. Kondisi ini diprediksi akan terus berlanjut hingga kuartal II-2016.

Kondisi penurunan penjualan properti juga dikeluhkan oleh sebagian besar pebisnis properti, baik dari pemain kecil hingga pemain besar. Salah satunya adalah Mitra Mugi Property. Tim Mitra Mugi Property menyebutkan bahwa pada kuartal I-2015, rata-rata tiap minggunya ada 40 hingga 60 konsumen yang menanyakan properti di daerah Depok. Namun, saat ini permintaan turun secara drastis menjadi hanya 20 hingga 30 penelpon tiap minggu.

Berbagai keluh kesah bermunculan dari para pelaku usaha. Tidak hanya developer, usaha-usaha turunan lainnya juga terkena imbasnya, seperti kontraktor, arsitek, toko material, toko furniture, agensi properti dan berbagai jenis usaha lainnya. “Harga kebutuhan pokok naik, harga material naik bahkan upah tukang juga turut naik, tapi harga properti jika dinaikan penjualan semakin melambat” ucap Ibnu Abdul Aziz, Direktur Harmony Land pada Selasa (6 Oktober 2015).

Dalam menghadapi kondisi ini, kita tetap harus tenang dan berpikir jernih. Seperti nasehat nenek moyang kita “selalu ada kesempatan disetiap kesempitan”, maka pasti ada celah yang bisa digunakan untuk menghadapi tantangan industri properti saat ini.

Jika kita mengacu pada hukum permintaan dan penawaran, ketika permintaan rendah yang diikuti dengan penawaran yang tinggi, maka harga akan mengalami penurunan. Akibat pertumbuhan properti yang sangat drastis pada tahun 2011 hingga 2013 kemarin (permintaan terus meningkat), berdampak pada semakin banyaknya pelaku usaha properti yang bermunculan. Salah satu contohnya adalah property club TDA Depok, dua tahun terakhir anggotanya meningkat sangat drastis hingga tiga kali lipat, dari sekitar 30 an menjadi 100 an pengembang perumahan. Namun disisi lain, pada tahun 2015 ini angka rupiah terhadap dolar melejit naik hingga menembus angka 14 ribu per dolarnya. Kondisi ini mengakibatkan berbagai komoditas juga terseret naik harganya. Kenaikan kebutuhan pokok ini berdampak pada menurunya tingkat permintaan properti secara nasional. Dengan tingkat penawaran semakin tinggi akibat semakin banyaknya pelaku usaha properti, bertemu dengan tingkat permintaan yang rendah akibat naiknya kebutuhan pokok, maka untuk mendapatkan titik equilubrium harga jual properti harus turun. Hal ini memang berdampak negatif bagi para developer. Namun disisi lain, jika kita lebih cermat lagi, akan muncul berbagai peluang yang menggiurkan. Untuk itu, kita terlebih dahulu harus menggarisbawahi hal-hal berikut

  1. Kondisi properti yang lesu adalah siklus dekade yang juga memiliki titik jenuh. Artinya industri properti akan kembali segar setelah melewati titik jenuh penurunan properti
  2. Ketika kebutuhan pokok meningkat dan pendapatan tidak mengalami peningkatan, maka sebagian besar orang akan menjual asetnya

Dari kedua poin di atas, kita bisa mengambil satu benang merah dalam menghadapi tantangan properti saat ini, yaitu ketika kondisi perekonomian makin turun, maka akan ada banyak orang yang menjual asetnya. Namun, dikarenakan sebagian orang lainnya juga masih wait and see terhadap dunia investasi dan sebagian orang lainya masih berjibaku pada kebutuhan pokok, maka menjual aset properti memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, dengan semakin mendesaknya tingkat kebutuhan seseorang, maka akan banyak bermunculan penawaran properti under value, yaitu ketika harga properti dibawah harga pasar normal saat ini. Disinilah kita akan bermain. Dalam kondisi ini malah kita harus sebanyak-banyaknya mengakuisisi properti-properti under value. Dengan membeli properti yang murah tersebut, ditambah pengolahan yang tepat akan memunculkan ledakan keuntungan yang luar biasa saat sektor properti kembali segar.

Kapan Kita Membeli Aset sehingga bisa masuk kategori Under Value ?

Bagaimana Mendapatakan Properti Under Value ?

Kapan kita menjual Kembali Properti yang kita Miliki ?

Bagaimana Caranya melakukan Pengolahan yang tepat terhadap Momentum ini ?

 

  1. Informasi lebih jelasnya, tunggu tulisan kami berikutnya

Salam

Fithor Muhammad

Telp. 0823 120 420 62

Mitra Mugi Property

Office :  Gedung Graha Harmony lantai 2, jalan keadilan raya no 13 B, Depok Timur.

Harmony Land

Author Since: 14 / Jan / 2016

About Author

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>